Wilkersonhatch5's website

Our website

30
Ja
Pemahaman Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam
30.01.2017 05:48


Dari segi bahasa ‘Aqiqah artinya: memotong. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang dengan penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada agaknya yang menyebarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Rambut yang terdapat pada oknum si budak ketika ia keluar dari rahim pokok, rambut itu disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk balita yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 kontrol untuk bocah laki-laki dan 1 termuda untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan balita perempuan tunggal kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh menitahkan: “Aqiqah dijalankan karena kemunculan bayi, oleh sebab itu sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua huru-hara darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Dari ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sempat ber ‘aqiqah untuk Laksmi dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, sira memberi nama dan memerintahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di dalam AI-Mustadrak bagian 4, sesuatu. 264]

Tanggapan: Hasan & Husain merupakan cucu Rasulullah SAW.

Dari Fatimah binti Muhammad saat melahirkan Rancak, dia mengatakan: Rasulullah bertitah: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada sosok miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Atas Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Menyandarkan Aqiqah Anak adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama terampil fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sebab kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai objek yang sunnah muakkadah ialah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan guyur darinya tahi kotok (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah perintah, namun tidak bersifat tetap, karena siap sabdanya yang memalingkan mulai kewajiban yaitu: “Barangsiapa diantara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, maka silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Duli Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya tentu menjadi sunnah.

Imam Raja berkata: Aqiqah itu menyerupai layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh pada aqiqah berikut hewan yang picak, kurus, patah rangka, dan pedih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam fauna aqiqah tersebut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami di masa jahiliyah apabila lengah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kibas dan melumangkan kepalanya beserta darah kibas itu. Oleh karena itu setelah Allah mendatangkan Agama islam, kami memotong kambing, membabat (menggundul) oknum si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud juz 3, hal. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di dalam masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang bocah, mereka melumuri kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu tatkala mencukur sabut si bayi mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bertitah, “Gantilah kadim itu dengan minyak wangi”.[HR. Putri Hibban secara tartib Putri Balban bagian 12, hal. 124]

Pelaksanaan aqiqah menurut kesepakatan getah perca ulama adalah hari ketujuh dari kemunculan. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW menitahkan, “Seorang anak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Meski tidak pun, maka pada hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Imam Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih di dalam hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah cukup. Karena rukun ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan merepoti sebagaimana panduan Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan bukan menghendaki kesulitan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini bertolak pada sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak tersebut tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi seri. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Dan jikalau tidak dapat melaksanakannya pada hari ketujuh, maka siap dilaksanakan dalam hari ke empat belas kasihan, dan jika tidak bisa, maka pada hari ke dua puluh satu, tersebut berdasarkan hadits Abdullah Putra Buraidah atas ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih dalam hari ketujuh, ke 4 belas, & ke dua puluh tunggal. ” (Hadits hasan sejarah Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga minggu masih tidak mampu maka kapan aja pelaksanaannya di kala telah mampu, sebab pelaksanaan di hari-hari di tujuh, di empat belas kasihan dan di dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. & boleh juga melaksanakannya pra hari di tujuh.

Momongan yang musnah dunia pra hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, lebih dari itu meskipun balita yang kelulusan dengan tumpuan sudah berusia empat bulan di dalam isi ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si budak. Namun jika seseorang yang belum dalam sembelihkan hewan aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, jadi dia bisa menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan jikalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal itu tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika tidak bisa, jadi pada hari keempat belas kasihan. Dan jika bukan bisa agaknya, maka pada hari ke-2 puluh mono. Selain tersebut, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Akan tetapi demikian, bahwa ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia dapat melakukan aqiqah sendiri pada saat gede. Satu pada al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menyangkal, “Menurutku, kalau ia belum diaqiqahi begitu kecil, dipastikan lebih elok melakukannya seorang diri saat kuat. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga menilai demikian. Menurut mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh sosok tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal merupakan satu upaya baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sesuai perkataan Putra Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain satu domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Serbuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kalian harus pulih bahwa Laksmi dan Husain adalah bujang kembar. Jadi pada satu kelahiran ini disembelih 2 ekor wedus.

Namun yang lebih yang utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki dan 1 ekor untuk anak perempuan berdasarkan hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengarahkan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki 2 ekor sedia dan atas anak perempuan satu ekor. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang mempunyai: “Nabi SAW memerintahkan meronce agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor domba yang sama dan daripada anak cewek satu kontrol. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang bani

1. Disunnatkan untuk melepaskan nama serta mencukur rambut (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir di hari Unik, ‘aqiqahnya mati pada hari Sabtu.

dua. http://dapoeraqiqah.com/catering-aqiqah-bandung/ Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kambing sedang untuk anak cewek 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan terhadap orang tua si anak, namun boleh pula dilakukan per keluarga yang lain (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah ini hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Cantik Mentah / Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan di kondisi telah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kambing untuk bani dan satu ekor kambing untuk bujang perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan sengsara miskin juga bisa dikasih kepada manusia non-muslim. Apalagi jika hal itu dimaksudkan untuk memikat simpatinya serta dalam rancangan dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi mencopet orang melarat, anak yatim, dan tawanan, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu merupakan orang-orang kafir. Namun demikian, keluarga juga boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa menghitung apakah megak atau perempuan, sebagaimana tambo di lembah ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia relasi bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kibas dan untuk anak perempuan satu kontrol kambing. Gak menyusahkanmu indah kambing tersebut jantan ataupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, pada Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum mendapatkan dalil yang lain yang menyibakkan adanya binatang selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Saat yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasar pada dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 dari kelahiran bujang tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Adapun dagingnya dipastikan dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, dan mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat serta tetangga untuk menyantap makanan daging aqiqah yang sudah matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan boleh mengundang teman2 dan suku untuk menyantapnya, atau mampu juga dia mensedekahkan seluruhnya. Syaikh Putri Bazz mengatakan: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya dan memasaknya kemudian mengundang sosok yang tuan lihat sedang diundang mulai kalangan moyang, tetangga, sobat-sobat seiman serta sebagian sosok faqir untuk menyantapnya, dan hal serupa dikatakan sama Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi kalau ada signifikansi antara pengertian sebuah seri dengan yang diberi seri. Hal ini ditunjukan secara adanya sejumlah nash syari yang menyarankan hal itu.

Dari Debu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam hendaknya Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menghiraukan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam seri berkaitan dengannya sehingga bagai makna-makna ini diambil darinya dan seakan-akan nama-nama tersebut diambil atas makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama tentang yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang mendapatkan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku menjawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Putri Al-Musayyib mengatakan: “Orang itu senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang bagus untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang elok yang menarik diberikan adalah nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana sabda beliau: Dari Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik dari segi ajaran Islam, silahkan klik:

Memberi Nama Bayi alias Anak Dengan Islami


Memotong Rambut

Memotong rambut ialah anjuran Nabi yang super baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru lahir pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak tersekat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi seri, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang ukuran rambut Patut dan Husein lalu sira menyedekahkan galuh seberat rambut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut mesti dilakukan beserta rata; tidak boleh hanya mencukur sekitar kepala & sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar pun sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Memiliki arti: Dengan pamor Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) daripada Muhammad dan keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk budak ini secara kalimat Tuhan Yang Baik dari sekalian gangguan syaitan dan gelaran binatang juga gangguan sorotan mata yang dapat mengangkat akibat jelek bagi segalanya yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pendapat Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs mempunyai beberapa nasihat diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim AS tatkala Allah SWT menerima putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Pada aqiqah berikut mengandung bagian perlindungan atas syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir ini, dan tersebut sesuai beserta makna hadits, yang mempunyai: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Dengan demikian Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih selamat dari gelaran syaithan yang sering memegang anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sama Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai per aqiqahnya”.

3. Aqiqah yaitu tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari melepaskan Syafaat bagi kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan wujud taqarrub (pendekatan diri) terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud rasa syukur kepada karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya sang anak.

5. Aqiqah sebagai sarana menunjukkan rasa ribut dalam mengerjakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang hendak memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menegakkan ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan masih banyak sedang hikmah yang terkandung di pelaksanaan Syariat Aqiqah berikut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free website powered by Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!